Bio

rolf-100

Saya dilahirkan di Semarang, Ibukota Propinsi Jawa Tengah, pada tanggal 29 Juni 1950, dan diberi nama oleh orangtua saya Rudolf Willem Smit. Willem adalah nama kakek saya dari jalur Ibu dan Rudolf adalah nama ayahanda. Nama lengkap orangtua saya adalah Arie Rudolf Cornelis Smit disingkat A.R.C. Smit dan oleh banyak orang dipanggil Oom Arie dan Sophia Jeanette van Sprew, sering dipanggil Tante Fiete. Ayah dan Bunda dilahirkan di Kota Surabaya, Ibukota propinsi Jawa Timur pada tahun 1924 pada tanggal 13 Mei (Ayah) dan tanggal 27 Januari (Bunda). Kedua orangtua saya beragama Nasrani, Katolik Roma, dan otomatis saya pun dipermandikan sebagai orang Katolik Roma dengan nama permandian Paulus. Jadi nama lengkap saya saat itu, mengikuti gaya penulisan nama Amerika Serikat, adalah Rudolf Willem Paulus Smit. Namun demikian, nama itu tidak saya pergunakan lagi setelah saya mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengubah keyakinan saya ke Islam.

2 tahun setelah kelahiran saya, adik saya Bram Petrus dan saya diboyong orangtua ke Jakarta, Ibukota Republik Indonesia. Walau hanya berusia dua tahun saya masih ingat saat-saat kami berada di kapal laut yang membawa kami ke Jakarta. Apakah saya mempunyai ingatan yang kuat atau tidak tak pernah saya ketahui dan saya tak berminat untuk melakukan pengetesan mengenai hal ini. Yang pasti, sampai saat ini saya berumur diatas 60 tahun masih banyak kenangan (memory) yang saya miliki walau disana sini saya lupa rinciannya.

Yang sudah pasti, pada bulan Desember 1997, seminggu sebelum memasuki Bulan Suci Ramadhan, kawan bernama Poniman Kasturo mengajak saya ke Masjid Istiqlal, Jakarta, dimana saya mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagai tanda saya mengubah nama menjadi Abdullah Rudolf Smit. Nama Abdullah diberikan oleh Guru Spiritual saya alm. Haji Tjetjep Soedarmadi.

Syukur Alhamdulillah

There are too many people who have contributed significantly in the shaping of my character and personality. I am what I am right now because of these people. Of course, I must state that all the good things that people found in me must have been partly shaped by these people and that they have nothing to do with my bad traits. Allow me also to say that because of memory failings there maybe many names that are not mentioned. GOD knows that even then you are part of my life and May GOD The All-Loving and All-Merciful grant you all the blessings you deserve.

Terlalu banyak orang yang telah ikut membentuk karakter dan kepribadian saya. Saya adalah saya saat ini karena orang-orang ini, Sudah tentu wajib bagi saya untuk menyampaikan bahwa segala sesuatu yang baik yang terlihat orang dalam diri saya terbentuk sebagian oleh orang-orang ini dan mereka sama sekali tidak berperan dalam ciri-ciri buruk saya. Perkenankan juga saya menyampaikan bahwa karena keterbatasan ingatan ada banyak nama yang tak tersebutkan. Allah SWT mengetahui bahwa anda adalah bagian dari kehidupan saya. Semoga Allah SWT, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, melimpahkan semua berkah pada anda karena anda layak menerimanya.

Syukur Alhamdulillah saya sampaikan kepada Allah SWT yang dalam genggamanNYA nyawa saya berada, KEKASIH SEJATI yang tak pernah meninggalkan saya apapun niat, pikiran, perkataan dan perbuatan saya. Hanya “BELIAU” lah satu-satunya yang saya SEMBAH, satu-satunya PENOLONG saya, satu-satunya PELINDUNG saya.

Manusia di bumi yang saya sangat cintai dan hormati adalah kedua orang tua kandung saya ARC Smit dan SJ Van Sprew-Smit. Karena cinta merekalah Allah SWT berkenan menciptakan saya. I will always Love you MOM and DAD, although I have never been a good son to you both. Forgive me for all my wrongdoings to you.

Secondly, saya ingin menyampaikan cinta saya pada adik-adik saya Bram Petrus, Frank Johannes alm., Marietta, Hans-Peter, dan Eduardus alm. Kehidupan saya bersama mereka telah menjadi salah satu tonggak seharah kehidupan saya. Ipar-ipar saya seperti Dewi Carina, Daphne, Carmencita (Menchie), Roland Sager, dan keponakan-keponakan saya ikut membahagiakan saya. Thank you guys. I love you dan GOD Bless you always.

My children, anak-anak saya, Sabrina, Shinta, Raihan dan Rizwan adalah hasil cinta kasih saya dengan Ibu mereka dan mereka adalah anak-anak yang baik dan berhasil menjalani hidup dengan baik apapun rintangan-rintangan yang harus mereka lalui. Kepada Ibu mereka, pendamping saya, hanya cinta yang bisa saya sampaikan. You have been part of my life and your love has given birth to wonderful children.

Karir saya dipenuhi begitu banyak orang yang membantu saya menuju apa yang saya inginkann dan tidak semua saya ingat namanya. Dari yang saya ingat dan masih mendampingi saya secara spiritual, emosional, maupun fisik adalah Benny MIH Slamet sekeluarga, Christina Yuwono, Poniman Kasturo, Ridwan Tulus sekeluarga, Joni Mardianto Sekeluarga, Yuliandre Darwis, Aim Zein sekeluarga, Sonny Syahreno, Melferi sekeluarga, Syahroni Falian sekeluarga, Djarkasi, Ferry Joy, dan banyak lagi yang akan saya ungkap segera setelah saya mengingat nama-nama mereka baik yang bekerja dalam dunia pariwisata maupun tidak.

Syukur alhamduliilah karena Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang SWT telah dan akan selalu menjadi sebaik-baiknya Pelindung dan Penolong. Tidak lupa saya sampaikan salam dan shalawat kepada Rasulullah saw dan keluarga yang menjadi teladan bagi umat manusia.

Awal Semuanya

Terlahir di Semarang, Ibukota Jawa Tengah, 61 tahun lalu. Sebagai penghargaan (?) Pemerintah tahun lalu memberi KTP (Kartu Tanda Penduduk) Seumur Hidup. Dilihat dari usia biologis teman-teman dan masyarakat pada umumnya menganggap saya sudah tua. Uzur bahkan. Namun semangat muda saya begitu kuat sehingga saya sama sekali tidak merasa diatas 60 tahun sampai suatu waktu beberapa waktu lalu saya harus diopname selama 14 hari. Sekarangpun masih rawat jalan. Ternyata tua juga yah.

Nama yang diberikan pada saat lahir di RS St Elizabeth di Candi Atas, Semarang, adalah Rudolf Willem Smit. Rudolf dari Bapak, yang lengkapnya adalah Arie Rudolf Cornelis Smit, alm., dan Willem dari Kakek, ayah bunda. Karena lama tinggal di luar negeri, khususnya di Negeri Bunga Sampaguita, Philippines, sesuai kebiasaan yang berlaku di Amerika Serikat nama saya menjadi Rudolf Willem van Sprew Smit. Van Sprew adalah marga bunda dan Smit marga ayah. Supaya diketahui, Philippines adalah bekas jajahan Amerika Serikat dan hampir seluruh gaya hidup disana mengacu pada negara bekas penjajah ini.

Adik saya Bram Petrus juga dilahirkan di Semarang sedangkan 4 adik saya yang lain semua lahir di Jakarta. Dari semua adik saya hanya 1 yang perempuan, Marietta, anak keempat. Dengan adanya 5 laki plus ayah maka kita sudah mengisi setengah dari team sepakbola. Nama-nama adik saya dari adik tertua sampai termuda adalah Bram Petrus Smit, Frank Johannes Smit (alm.), Marietta Smit, Hans-Peter Smit, dan Eduardus Smit (alm.)

Semua anggota keluarga Smit yang laki-laki bermain bola sepak, bola basket dan voli tetapi saya juga mencintai atletik dan di sekolah saya ikut di loncat tinggi dan lari cepat khususnya 100 meter. Sedangkan Marietta mengikuti jejak ibu menjadi seorang penari.

Kondisi kesehatan saya waktu remaja membuat saya sulit untuk terus bermain sepakbola sehngga akhirnya saya menjadi wasit. Sementara adik-adik terus bermain dan bergabung dengan team-team profesional. Bahkan Hans sampai saat ini adalah pelatih team junior dan team wanita di Philippines.

Keluarga Smit berangkat ke Philippines pada tanggal 5 Juli 1964 dan mendarat di Manila yang waktu itu baru saja dihantam angin topan (typhoon). Negeri jiran ini adalah langganan angin topan dan setiap tahun bisa dikunjungi belasan bahkan puluhan typhoon.

The Philippines (Filipina) menjadi rumah saya selama 19 tahun dan disinilah saya mengenyam pendidikan S-1, S-2. Pada awal kedatangan kami, untuk menyesuaikan diri dengan Bahasa Inggris, yang menjadi Bahasa Pengantar di sekolah,  saya turun dari SMP Kelas 2 ke Kelas 7 Grade School kemudian naik lagi ke Kelas 3 High School setahun kemudian.

Filipina adalah bekas jajahan Amerika Serikat sehingga kiblat pemerintah dan masyarakat negeri bunga sampaguita ini adalah Amrik. Saya pun menikmati pendidikan a la Amrik tanpa harus pergi ke benua Amerika. Kebiasaan orang Amerika adalah memanggil orang dengan nama fam atau warga. Jadi saya dan adik-adik dipanggil Smit. Agak lucu, karena pernah saya bersama 2 adik laki-laki saya berjalan di sekolah bersamaan, kemudian ada yang memanggil “Smit.” Otomatis kami bertiga menoleh dan saya harus bertanya “Smit yang mana yang kalian panggil?”

Pada usia 14 tahun, tak lama setelah kami sekeluarga mendarat di Filipina, saya menderita sakit pneumonia yg begitu akut. Ibu dengan naluri perawatnya berpikir saya menderita demam biasa. Sementara Ibu mencari dokter di Buku Petunjuk Telpon saya dibawa dalam perjalanan ke alam sana, alias koma, dgn suhu badan 41 derajat Celsius. Pengalaman mati suri inilah yang menjadi awal perjalanan spiritual saya yg sangat menakjubkan. Namun baru 33 tahun kemudian saya menyadari konsekwensinya.

Start

Saya terlahir pada tanggal 29 Juni 1950 di Kota Semarang, sekarang Ibukota Propinsi Jawa Tengah. Ayah saya, dipanggil Papa, adalah Arie Rudolf Cornelis Smit (disingkat A.R.C. Smit) dan Ibu, dipanggil Mama, bernama Sophia-Jeanette van Sprew Smit (disingkat S.J. van Sprew Smit). Baik Ayah maupun Ibu terlahir di Surabaya pada tahun 1924. Saat ini Ayah telah meninggal dunia dan Ibu masih hidup dan tinggal bersama adik-adik saya di Manila, Ibukota Filipina (Philippines). Mereka berdua adalah Warganegara Indonesia keturunan Belanda saat saya dilahirkan.

Saya muncul dii dunia ini di Rumah Sakit St. Elizabeth dan selama 2 tahun pertama kehidupan saya, kami sekeluarga, termasuk adik saya, Bram Petrus Smit, menetap di Candi Atas. Akan tetapi tak lama setelah Bram dilahirkan, orangtua memboyong kami menuju Jakarta dengan menggunakan kapal laut. Salah satu pengalaman saya adalah pada usia 2 tahun saya mengingat satu momen dalam perjalanan tersebut karena teringat saya berada dalam suatu ruangan yang besar sekali dan saya sempat melihat keluar jendela dan melihat kapal-kapal lain. Pada usia remaja, tepatnya pada usia berapa saya tidak ingat, saya menyampaikan apa yang saya ingat ini kepada Ibu. Jawaban Ibu adalah bahwa apa yang saya ingat adalah waktu kamii menuuju Jakarta melalui laut. Usia saya 2 tahun. Agak terkejut juga saya mendengarkan jawaban Ibu karena saya di usia itu mengingat sesuatu.

Sampai saya berusia 14 tahun, kami menetap di Jakarta. Awalnya kami tinggal di sebuah Hotel bernama Majapahit, yang sekarang sudah tiada karena lahannya diambil negara dan dijadikan bagian dari Istana Kepresidenan (Sekretariat Negara – Sekneg di Jalan Majapahit). Selain daripada itu saya masih ingat tempat-tempat dimana kami tinggal. Misalnya di Jalan Gandaria, Jalan Wijaya dan Jalan Bumi, semuanya di Kebayoran Baru. Yang ingin saya sampaikan adalah waktu kami tinggal di Jalan Gandaria, kami diberi ruang garasi oleh pemilik rumah untuk diijadikan tempat tinggal dan kamar anak-anak diberikan sebuah ruangan dibelakang garasi. Mobil pemilik rumah di parkir di luar garasi tetapi masih di dalam pekarangan rumah. Kalau saya tidak salah nama pemilik rumah adalah Bapak Chalik, teman dari Ayah. Keluarga kami boleh dibilang keluarga yang tidak punya dan kedua orangtua saya bekerja untuk menghidupkan anak-anak. Walaupun demikian, Ayah tidak memperkenankan Ibu untuk bekerja sehingga akhirnya Ibu berhenti bekerja.

Teenage Years

Kedua orangtua saya beragama Katolik dan anak-anakpun mengikuti. Ayah bahkan adalah dirigen di Gereja.

Saya menikmati sekolah SD di Strada, Blok B, Kebayoran Baru dan SMP di Tarakanita, Blok Q, Jalan Pierre Tendean. Aktif dalam bidang olahraga, khususnya Lari Cepat dan Loncat Tinggi, saya sering memimpin Kelompok Gerak Jalan Tarakanita akan tetapi selalu kalah dalam poersaingan dengan Kanisius, yang berada di Menteng. Persaingan antara Tarakanita dan Kanisius juga terjadi di tataran akademik, khususnya dalam prestasi Ujian Nasional. Pada saat itu Tarakanita masih campur siswa lakii-laki dan pperempuan. Sekitar Tahun 1964 siswa laki-laki pindah dan berdirilah Pangudi Luhur. Tarakanita diikelola oleh para suster (biarawati) dan Pangudi dikelolla para bruder (biarawan).

Kondisi politik dan ekonoomi saat itu sangat merisaukan. Masyarakat harus antri untuk apa saja, beras, minyak goreng dan lain-lain. Perselisihan antara berbagai unit Angkatan Bersenjata sering memiicu pertempuran bersenjata. Pada saat-saat genting itulah Ayah mendapatkan tawaran darii Minet’s, Brokers dari perusahaan asuransi Lloyds di Inggris  untuk membuka kantor di luar Indonesia. Setelah mensurvei beberapa lokasii Ayah memilih Filipina. Alasan Ayah adalah kedekatan, sehingga bila situasi membaik lebih mudah pindah kembali ke tanah air. Pada tanggall 5 Juli 1964 berangkatlah kamii sekeluarga menuju Maniila. Yang berkesan bagi saya saat itu adalah bahwa setibanya mendarat di Bandara Internasional Manila, saya melihat banyaknya pohon-pohon yang bertumbangan akibat Manila baru saja dilalui Angin Topan (Typhoon) yang besar. Ternyata, negeri Bunga Sampaguita (sejens melati yang harum) ini adalah langganan topan.

Sedikit mengenai kondisi kesehatan saya. Sepakbola adalah olahraga favorit saya akan tetapi sebagai pemain saya sering mengalami kehabisan nafas dan seolah-olah menderita asma. Pemeriksaan kesehatan di Jakarta, menurut minimal pengetahuan saya, tidak menunjukkan saya menderita sesuatu yang berat. Nah, tak lama setelah sampai di Manila, saya jatuh sakit yang begitu hebatnya sehingga berdampak besar pada kehidupan saya kemudian. Saya menderita demam dan Ibu, mantan perawat, mengira itu demam biasa dan mencoba mengobatinya sendiri. Namun pada hari ke-3 suhu badan saya makiin tinggi mencapai 41 derajat Celcius. Ibu langsung mencari Buku Telpon (Yellow Pages) dan mencari dokter. Sementara Ibu mencari dokter saya tiba-tiba menghilang dan berada di suatu tempat yang sangat aneh. Namun, sebelum saya menjelaskan secara rinci apa yang terjadi, saya ingin cerita terlebih dahulu kondisi sebelum jatuh sakit.

Spiritual Trip

Pada usia 14 tahun saya mengenyam pendidikan kelas 2 SMP dan sebagai pecinta sepak bola, saya pun bermain bola untuk sekolah. Permainan saya boleh dibilang “lumayan” (not bad lah). Akan tetapi setelah berlari kesana-sini beberapa kali saya pasti kehilangan nafas dan kadang susah bernafas. Ada yang bilang saya menderita “bengek” atau asma. Setiap kali ke dokter, diagnosanya adalah saya ‘asmatis’ atau menderita mirip asma. Demikianlah masalah saya ini berlanjut tanpa ada penyembuhan. Baru di Manila diagnosa yang dilakukan dokter rumah sakit setelah saya menderita demam 3-hari memberikan gambaran apa yang sebenarnya saya derita.

Yang saya derita adalah bolongnya vena dari jantung ke paru-paru sejak lahir. Kurangnya oxigen ke paru-paru inilah yang membuat saya, bila melakukan kegiatan fisik berat, kekurangan nafas seperti asma. Tak lama setelah kami sekeluarga tiba di Manila saya kena penyakit yang disebut pneumonia, radang paru-paru akut. Nah, sementara Ibu mencarikan dokter inilah saya melakukan perjalanan menuju alam ghaib.

Dengan suhu badan setinggi 41 derajat Celcius, menurut dokter, seharusnya saya sudah lewat dan kalaupun hidup menjadi idiot karena kemungkinan otak saya terbakar. Awalnya perjalanan saya adalah sebagai berikut.

Saya berada dalam kegelapan total. Apakah dalam suatu ruangan atau suatu lapangan terbuka, saya tidak tahu. Anehnya, saya sama sekalii tidak merasa takut seperti biasanya perasaan seseorang bila harus memasuki suatu tempat yang gelap, apalagi gelap total. Hitam pekat. Saya merasakan tetapi tidak melihat bahwa ada seseorang atau apapun nama yang ingin kta berikan pada makhluk disebelah saya. Dia berbicara kepada saya dengan kata-kata “Jangan takut. Saya menemani”. Memang saya sama sekali tidak merasa takut, yang saya rasakan adalah kenyamanan. Saya kemudian diarahkan untuk melihat ke depan dan terlihatlah di kejauhan suatu titik putih, kecil tapi jelas. Penjaga atau Guide saya mengajak saya untuk bergerak menuju titik putih itu. Kami tidak berjalan karena saya merasa kaki saya tidak menginjak sesuatu tapi kamipun tidak terbang. Kami hanya bergerak saja dalam posisi berdiri. Makin dekat ke titik kecil itu makin besar titik putih itu menjadi seperti suatu bola cahaya yang sangat sangat putih, lebih putih daripada putih yang pernah saya lihat dalam dunia, dan sangat terang. Anehnya, terangnya bola atau awan putih ini lebih terang daripada cahaya matahari namun tidak menyilaukan. Tidak ada rasa panas. Hanya kenyamanan dan ketenangan saja. Lama kelamaan saya masuk kedalam cahaya ini dan di dalamnya hanya ada warna putih seputih-putihnya, berlawanan dengan hitam sehitam-hitamnya dalam gelap sebelumnya. Tidak ada rasa takut sama sekali. Tidak pernah saya merasakan kedamaian dan ketenangan seperti saat berada dalam dunia nyata. Tiba-tiba ada suara mirip suara seorang laki-laki dengan suara menggelegar tapi tidak memekakkan telinga, suara yang agak ngebas (beautiful sound), yang berkata : “Jangan Takut. Belum waktunya kamu berada disini. Saksikan, alami, beritakan”. Dalam sekejap saya berada disuatu tempat yang agak sulit digambarkan, karena kata-kata manusia sangat terbatas, dimana ada banyak penghuni yang berteriak-teriak minta dimatikan, jeritan-jeritan yang menyeramkan dan suhu yang sangat tinggi. Bagi saya tempat ini sangat menakutkan, penuh dengan penyiksaan dan penderitaan yang tak terbayang. Saya pun tak tahan berada disana. Pada saat saya sudah tidak kuat lagi saya tiba-tiba dipindahkan ke lokasi, tempat lain yang suasananya sangat bertolak belakang. Di tempat ini semuanya menyenangkan, kenikmatan tiada tara, semua “happy”, pemandangan yang tak bisa dilukiskan keindahannya. Mewah, Indah, Nyaman, Damai hanya beberapa kata yang bisa saya pergunakan walau dalam kenyataan semuanya lebih daripada itu. Saya sangat menikmati keberadaan saya disini. Alangkah jengkelnya saya waktu pendamping, guide saya menyentuh lengan saya dan mengatakan bahwa saya harus balik. Saat itu saya tidak mau balik tetapi teringat saya kata-kata Sang Maestro dalam cahaya bahwa “belum waktunya saya berada disini”.

Yang saya ingat kemudian adalah saya terbangun dalam kamar saya sendiri dan waktu membuka mata saya melihat Ibu dan seorang dokter, saya tahunya karena sang dokter memakai jubah putih. Saya ingat Dokter bernama Amado Amante mengatakan betapa beruntungnya saya karena dengan suhu badan setinggi 41 derajat Celcius seharusnya saya sudah meninggal dunia atau minimal hidup dengan kondisi otak terbakar alias jadi idiot. Saya kemudian dibawa ke rumah sakit, Trinity Hospital,  dan berada disana selama 29 hari. Penyakit saya diobati dan perlahan tapi pasti kesehatan saya pulih. Usia saya waktu itu 14. Bisa saja orang-orang mengatakan bahwa saya berhalusinasi karena suhu badan yang tinggi dan tidak ada orang yang bisa menjadi saksi mengenai “mati suri” (NDE – Near Death Experience) saya. Bahkan makna pengalaman ini baru saya pahami 33 tahun kemudian. Setelah saya sembuh, saya tidak mengingat sama sekali apa yang terjadi dan menjalani kehidupan seperti layaknya remaja yang sedang mengejar cita-cita.

Selama 33 tahun setelah pengalaman mati suri ini saya mengejar cita-cita yang sangat duniawi. Saya menjadi orang yang dikenal dalam pergerakan pelajar-mahasiswa Indonesia di Filipina, selalu mendapatkan apa yang saya inginkan. Bahkan pada tahun 1972 saya dinobatkan sebagai Mahasiswa Asing Teladan se Filipina dan mendapatkan kesempatan mengenal putri tertua Presiden Ferdinand Marcos dan bisa bebas keluar masuk Istana Malacanang bila Imee Marcos ingin ngobrol dengan saya. Dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia di Filipina, yang dulunya bernama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), saya menduduki kursi kepengurusan walau bukan sebagai Ketua. Pada Pertemuan Pemuda ASEAN yang dilaksanakan di Manila, saya yang tadinya hanya sebagai Pengamat langsung diangkat oleh Ketua Delegasi Indonesia, Marzuki Darusman, menjadi Juru Bicara karena keahlian saya dalam berkomunikasi dalam Bahasa Inggris.

Sebelum aktifitas tersebut diatas, saya sempat masuk Seminari, sejenis Pesantren, dimana mereka yang ingin menjadi Pastor, pendeta Katolik, dididik dan dilatih. Keinginan saya untuk mengenal lebih dekat Sang Pencipta, membuat saya mendalami masalah-masalah keagamaan dan spiritualisme. Namun di dalam Seminari saya mulai bertanya mengenai Tri Tunggal, aqidah Kristiani. Saya ingin tahu mengapa ada Allah Bapak, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Setiap kali jawaban diberikan oleh pastor pembimbing dan Rektor Seminari, saya timpali lagi dengan pertanyaan “Why”, “Mengapa”. Sampai pada suatu saat mereka mentok dan mengatakan “Anda harus mengimaninya”. Dalam hati saya pertanyaan muncul, bagaimana saya tahu kalau yang harus saya imani adalah ajaran TUHAN atau ajaran Iblis? Saya ingin sesuatu jawaban yang masuk akal dan dapat saya yakini. Keinginan tersebut tidak pernah terpenuhi sehingga saya harus melakukan pencarian sendiri.

Setelah 3 tahun dalam seminari dan berada diluar saya menjadi siswa di Universitas Filipina (University of the Philippines) dan mulailah perjalanan saya menuju ketenaran. Akan tetapi walau apa saja yyang saya inginkan saya peroleh, nama jadi terkenal, wanita banyak saya pacari, keuangan tidak bermasalah karena saya juga bekerja sambil kuliah, saya tidak dapat menemukan kedamaian, ketenangan, kebahagiaan. Yang sangat saya kagumi, teman-teman saya mahasiswa Indonesia lainnya yang beragama Islam tidak pernah sekalipun membujuk saya untuk masuk Islam.

Conversion

Sekembalinya saya ke tanah air pada tahun 1978, walau masih memegang KTP Filipina, saya mulai membaca terjemah dari Al Qur’an dan buku-buku agama lain untuk mencari. Saya mulai jarang pergi ke gereja. Setelah menikah secara Katolik keresahan hati saya makin bertambah kuat. 2 anak perempuan lahir dan saya mulai secara tersembunyi melaksanakan Puasa secara Islami. mmengapa saya katakan demikian? Karena dalam agama Katolik puasa juga ada tetapi berbeda. Tidak ada aturan main yang jelas seperti Puasa dalam islam. Saya mulai berhenti makan babi. Walau alasan pertama adalah murni kesehatan. Saya menderita apa yang saya sekarang ketahui adalah “ujub”. Karena kemampuan saya untuk mendapatkan apa saja yang bersifat duniawi itu.

Mendekati 1997 usaha saya mulai berkurang, perkawinan saya tidak membahagiakan. Sehingga pada saat krismon melanda, saya bangkrut dan perkawinan hancur. Seorang teman bernama Poniman Kasturo, yang memberikan saya pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris di lembaga pendidikan yang ia kelola, melihat kegalauan diri saya dan pada bulan Desember 1997, seminggu sebelum Bulan Ramadhan, ia mengajak saya ke Mesjid Istiqlal untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat. Saya berpikir, saat itu “Nothing to lose” (tidak ada ruginya) karena saya sudah mentok di dunia ini dan ingin lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, kawaban yang saya dapatkan setelah mempelajari Al Qur’an walau hanya melalui terjemahnya.

Yang aneh, adalah setelah masuk Islam tahu-tahunya saya diingatkan kembali pada pengalaman Mati Suri saya. Pemahaman baru muncul. Saya baru mengerti kenapa saya saat itu melakukan perjalanan ke alam sana. Memang saya dipersiapkan untuk itu supaya masuknya saya ke Islam menjadi lebih mantap. Saya belajar dari pengalaman. Saya sadar bbahwa surga itu ada dan neraka itu ada karena saya telah melihatnya, merasakannya dan sesuai perintah “Suara dalam Cahaya” saya sekarang setiap kali mewartakannya kepada siapa saja yang mau mendengar.

Akan saya ceritakan secara lebih rinci pengalaman-pengalaman spiritual apa saja yang saya alami selama 33 tahun perjalanan menuju KEBENARAN. Kebenaran menurut saya tentunya.